no image

 

MAKALAH

IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang Diampu oleh:

Dr. Parno, M. Si


Disusun Oleh :

Syahrul Candra Ardani (200351615623)


UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

DESEMBER 2021



Untuk mengakses makalah, klik link di bawah:

MAKALAH IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

no image

Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan merupakan perangkat wawasan yang digunakan sebagai landasan berpikir dalam menentukan strategi, metode, dan teknik dalam mencapai target tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pendekatan juga dapat diartikan sebagai sebuah perspektif atau cara pandang seorang dalam menyikapi sesuatu.

Jenis Pendekatan dalam Pembelajaran.

Terdapat beberapa hal yang perlu digunakan untuk mengklasifikasi strategi pembelajaran, antara lain:

1.      Expository dan Discovery/Inquiry

Pembelajaran telah diorganisasikan oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, pembelajaran itu disebut ekspositori. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa kontinum tersebut di atas berguna bagi guru dalam memilih metode pembelajaran. Titik-titik yang bergerak dari ujung kiri sampai ke ujung kanan mengandung unsur-unsur ekspositori dengan berbagai metode yang bergerak sedikit demi sedikit sampai pada unsur discovery (penemuan). Dalam kenyataan hampir tidak ada discovery murni, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode pembelajaran yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.

Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositori dengan metode ekspositori pula. Begitu pula dengan discovery/inquiry sehingga suatu ketika ekspositori- discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi pembelajaran, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode pembelajaran. 

Dari strategi ekspositori, guru dapat memilih metode ceramah apabila ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah atau memilih eksperimen apabila ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut.

a.        Pada Taman Kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan berdiri pada jalur penyeberangan dan menanti lampu lalu lintas sesuai dengan urutan warna. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositori ia mengemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.

b.       Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah”, guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dari sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media pembelajaran, akan merupakan ekspositori apabila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus diperbuat, siswa diharapkan menerima dan melaksanakan informasi tersebut. Akan tetapi, strategi itu akan menjadi discovery atau inkuiri apabila guru meminta anak-anak untuk merencanakan sendiri jalan-jalan dari rumah masing-masing. Strategi ini akan menyebabkan, anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi diri masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum siswa sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin siswa perlu mengujicobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.

Dari contoh sederhana tersebut dapat dilihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositori atau discovery. Guru dapat mengombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan.

2.      Discovery dan Inquiry

Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan) penemuan adalah proses mental yang mengharapkansiswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental, misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, dan membuat kesimpulan. Konsep, misalnya bundar, segitiga, demokrasi, dan energi. Prinsip, misalnya “setiap logam apabila dipanaskan memuai”. Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam). Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.

Penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu baik, untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. Salah satu bentuk discovery yang disebut Guided Discovery (discovery terbimbing), guru memberi beberapa petunjuk kepada siswa untuk membantu siswa menghindari jalan buntu. Guru memberi pertanyaan atau mengungkapkan dilema yang membutuhkan pemecahan-pemecahan, menyediakan materi-materi yang sesuai dan menarik, serta meningkatkan kemampuan siswa untuk mengemukakan dan menguji hipotesis. Secara berturut-turut langkah discovery terbimbing sebagai berikut.

a.       Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dalam pertanyaan atau pernyataan.

b.      Jelas tingkat/kelasnya (misalnya SMP kelas III).

c.       Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.

d.      Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan.

e.       Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.

f.        Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.

g.      Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.

h.      Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.

i.        Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya.

Adapun langkah-langkah inquiry sebagai berikut.

a.       Menentukan masalah.

b.      Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan.

c.       Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan.

d.      Perumusan keterangan yang diperoleh.

e.       Analisis proses inquiry.

 

3.       Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Sejak dulu cara belajar ini telah ada, yaitu bahwa dalam  kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa. Hanya saja kadar(tingkat) keterlibatan siswa itu yang berbeda. Jika dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa (student centered).

Siswa pada hakikatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas maka kewajiban gurulah untuk memberi stimulus agar siswa mampu menampilkan potensi itu, betapa pun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya sehingga siswa memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep, serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses pembelajaran seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif. 

no image

 Tujuan Pembelajaran

 

 Setiap guru perlu memahami tujuan pembelajaran. Hal ini dikarenakan memiliki kaitan yang sangat erat terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Pembelajaran dikatakan berhasil ketika siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.

Tujuan pembelajaran merupakan perilaku hasil belajar yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Berikut pendapat beberapa ahli mengenai tujuan pembelajaran:

1. Robert F Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah    perilaku yang hendak yang hendak dicapai atau yang dapat yang dapat dikerjakan oleh si oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.

2. Kemp (1977) dan David F. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan  pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan oleh  perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk  menggambarkan hasil belajar menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. yang diharapkan.

3. Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan setelah tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.

Meskipun para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa :

1. Tujuan Pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran

2. Tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digaris bawahi yaitu pemikiran David E. Kapel  bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan  pembelajaran dibuat secara tertulis ( Written Plan )

no image


PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Seorang pendidik di tuntut untuk menguasai materi yang diajarkan dan mampu menyampaikan materi tersebut secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan mengenai siapa yang diajar serta bagaimana cara menyampaikan materi dengan baik. Supaya seorang pendidik dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai seorang pendidik, maka pendidik perlu menyiapkan perencanaan pembelajaran.

Perencanaan merupakan pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan, sedangkan pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang dilakukan oleh guru untuk mengelola fasilitas dan sumber daya yang tersedia agar dapat dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan secara rasional tentang tujuan pembelajaran tertentu dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.

Perencanaan pembelajaran memilki beberapa karakteristik antara lain yang pertama, perencanaan pembelajaran disusun secara terstruktur dengan mempertimbangkan segala aspek kemungkinan yang dapat terjadi. Kedua, perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, perencanaan pembelajaran berisi rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan.

Upaya membuat perencanaan pembelajaran bertujuan supaya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran harus dimulai dari perbaikan perencanaan pembelajaran. Dalam membuat rencana pembelajaran harus dipilah manakan yang dapat bisa diukur pencapaiannya dan manakah yang merupakan urunan dari sejumlah aktivitas pembelajaran. Dalam merencanakan pembelajaran harus mempertimbangkan variabel yang mempengaruhi pembelajaran yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran.

Kondisi pembelajaran mencakup semua hal yang tidak dapat dimanipulasi dan diprediksi oleh pendidik, sehingga harus diterima bagaimanapun hasilnya. Metode pembelajaran mencakup semua hal yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil pembelajaran merupakan semua aspek yang muncul dari penggunaan metode tertentu.

Prosedur perencanaan pembelajaran antara lain:

·         Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran

·         Menganalisis pembelajaran

·         Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik

·         Menulis tujuan pembelajaran

·         Mengembangkan BAP (Butir Acuan Patokan)

·         Mengembangkan strategi pembelajaran

·         Mengembangkan bahan ajar

·         Melaksanakan evaluasi formatif dan sumatif

no image

Draft Makalah

“Implementasi Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam”

 

Nama              : Syahrul Candra Ardani

NIM                : 200351615623

Hari/tanggal   : Selasa/19 Oktober 2021

Offering         : C12

Mata Kuliah  : Belajar dan Pembelajaran

 

Cover

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1.      Latar Belakang

1.2.      Rumusan Masalah

1.3.      Tujuan

Bab II Pembahasan

2.1.      Pandangan Teori Belajar Kognitif

2.1.1.   Jean Piaget

2.1.2.   Jerome Bruner

2.1.3.   David Ausubel

2.2.      Pengaruh Teori Belajar Kognitif Terhadap Proses Belajar

2.3.      Aplikasi Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Bab III Penutup

3.1.      Kesimpulan

2.4.      Saran

Daftar Rujukan

Teori Belajar Behavioristik

 

Teori Belajar Behavioristik


sumber: nesabamedia.com

Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan sebuah tingkah laku akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan belajar apabila telah mengalami perubahan perilaku pada dirinya. Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan (input) yang berupa stimulus dan keluaran (output) yang berupa respon. Stimulus merupakan apa saja yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk membantu proses belajar siswa. Sedangkan respon merupakan reaksi/tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Aplikasi teori behavioristik dalam pembelajaran lebih mementingkan pengaruh lingkungan, mementingkan bagian-bagian, mementingkan peranan reaksi, mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus-respon, mementingkan kemampuan yang telah terbentuk sebelumnya. 

Teori belajar behavioristik pada mulanya banyak diterapkan dalam proses kegiatan belajar dan pembelajaran di dalam kelas. Namun, setelah berkembangnya teori belajar lainnya, banyak masyarakat yang tertarik menggunakan teori belajar lainnya dalam proses pembelajaran. 

Ciri-ciri Teori Behavioristik 

  1. bersifat mekanistik
  2. menekankan peranan lingkungan
  3. mementingkan pembentukan reaksi atau respon
  4. mementingkan latihan
  5. mementingkan mekanisme belajar
  6. mementingkan peranan kemampuan
  7. hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Macam-macam Teori Belajar Behavioristik

1. Aliran Koneksionisme. 

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dengan respon.


2. Teori Classic Conditioning.

Menurut Ivan Petrovich Pavlov, individu dapat dikendalikan dengan cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. 


Aplikasi Pembelajaran Behavioristik

Aplikasi pembelajaran behavioristik dalam pembelajaran, dilihat ketika terjadi perubahan tingkah laku pada peserta didik itu sendiri. Pembelajaran behavioristik mengacu pada dua hal, yakni stimulus dan respon. Guru memberikan dorongan (stimulus) berupa soal-soal, tugas, maupun pertanyaan. Kemudian siswa merespon dengan jawaban atau perubahan.


Prinsip Umum Behavioristik dalam Pembelajaran

  1. perubahan tingkah laku
  2. adanya stimulus dan respon
  3. reinsforsmen

Memahami Gaya Belajar Siswa

 Memahami Gaya Belajar Siswa

Sumber Gambar: freepik.com


Gaya belajar merupakan cara seseorang dalam menyerap pengetahuan, mengatur, serta mengolah informasi atau pengetahuan yang didapat. Dalam mengikuti sebuah proses pembelajaran, setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, sehingga guru dituntut untuk mengetahui gaya belajar siswanya supaya pembelajaran dapat berjalan secara efektif.

Gaya belajar dari siswa dapat diamati dari kecerdasan yang mereka miliki dan setiap siswa memiliki kecerdasan masing-masing yang lebih dominan. Menurut para pakar hanya sekitar 30% siswa yang berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas dikarenakan mereka memiliki gaya belajar yang sesuai dengan gaya mengajar yang diterapkan oleh guru. Sedangkan sisanya sebanyak 70% mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena memiliki gaya belajar yang tidak sesuai. Dengan kata lain sebanyak 70% siswa tidak terakomodasi oleh gaya mengajar guru di dalam kelas.

Ketidaktahuan guru terhadap gaya belajar yang dimiliki siswa menyebabkan penurunan prestasi bagi siswa yang diajarnya. Sehingga, seorang guru dituntut mampu mengetahui dan memahami gaya belajar yang dimiliki oleh siswanya sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih mudah.


Macam Macam Gaya Belajar

Secara umum gaya belajar pada manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. 

1. Gaya belajar visual

Gaya belajar visual merupakan gaya belajar dengan cara mengamati objek. Gaya belajar ini dipengaruhi oleh indera penglihatan.

Ciri-ciri orang yang memiliki jenis gaya belajar visual antara lain:

  • Menyukai kerapian 
  • Berbicara dengan tempo yang cenderung cepat
  • Biasa membuat perencanaan jangka panjang
  • Teliti sampai ke hal-hal yang sifatnya detail
  • Mementingkan penampilan berpakaian
  • Cenderung mengingat hal yang dilihat daripada yang didengar
  • Mengingat sesuatu dengan penggambaran
  • Tidak mudah terganggu dengan keributan
  • Pembaca yang cepat
  • Cenderung menyukai membaca sendiri daripada dibacakan oleh orang lain
  • Tidak mudah yakin terhadap setiap masalah sebelum merasa pasti
  • Lebih suka melakukan demonstrasi daripada melakukan pidato
  • Lebih menyukai seni dibandingkan dengan musik
  • Sering mengetahui apa yang seharusnya dikatakan tetapi mengalami kebingungan dalam menyusun kata-kata

2. Gaya belajar auditorial

Gaya belajar auditorial merupakan gaya belajar dengan cara mendengar. Seseorang yang memiliki gaya belajar auditorial lebih dominan dalam menggunakan indera pendengaran dibandingkan dengan indera penglihatan.

Ciri-ciri seseorang dengan jenis gaya belajar auditorial antara lain:

  • Sering berbicara sendiri saat melakukan aktivitas
  • Mudah terganggu dengan adanya bisingan di sekitarnya
  • Sering menggerakkan bibir ketika membaca
  • Lebih senang membaca dengan keras dan mendengarkan sesuatu
  • Dapat menirukan nada maupun irama dengan mudah
  • Memiliki kesulitan dalam menulis namun pandai dalam bercerita
  • Menyukai seni musik dibandingkan dengan seni lainnya
  • Cenderung menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar 

3. Gaya belajar kinestetik

Gaya belajar kinestetik merupakan gaya belajar dengan cara bergerak maupun melakukan aktivitas lainnya. Gaya belajar ini lebih mengutamakan indera perasa dan gerakan fisik. Seseorang dengan gaya belajar jenis ini lebih mudah memahami sesuatu ketka sambil bergerak.

Ciri-ciri seseorang dengan jenis gaya belajar kinestetik antara lain:

  • Berbicara dengan suara yang pelan
  • Menyentuh orang lain supaya mendapatkan perhatian dari orang tersebut
  • Mendekat dengan seseorang yang menjadi lawan bicaranya
  • Terbiasa menghafalkan dengan cara berjalan
  • Menunjuk tulisan ketika sedang membaca
  • Cenderung kurang nyaman jika duduk dalam waktu yang lama
  • Menyukai sesuatu yang menyibukkan


Hakikat Pembelajaran
Sumber gambar: beritasatu.com

Hakikat Pembelajaran 

Pembelajaran merupakan proses dimana seseorang memberikan pengetahuan kepada orang lain supaya dapat menguasai dengan baik, mahir, dan benar. Pembelajaran juga dapat berarti suatu proses di mana seseorang membantu orang lain dalam membentuk sikap dan karakter pada diri orang tersebut. 

Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan "pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dari undang-undang tersebut mengandung makna bahwa ada beberapa unsur penting dalam pembelajaran yaitu adanya peserta didik, adanya pendidik, adanya sumber belajar pada lingkungan belajar.     

Selain mengacu Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, dalam mendefinisikan makna dari pembelajaran juga dapat mengacu pada pendapat para ahli. Berikut beberapa definisi Pembelajaran menurut para ahli : 

1. Oemar Hamalik

Pembelajaran adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran”. Oemar Hamalik mengemukakan 3 (tiga) rumusan  yaitu: Pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.

2. Syaiful Sagala

Pembelajaran adalah “proses memberikan ilmu kepada siswa dengan memerhatikan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”. Dimana pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, yaitu guru yang mengajar dan murid yang belajar.

3. Sudjana

Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak yaitu antara peserta didik “warga belajar” dan pendidik “sumber belajar” yang melakukan kegiatan membelajarkan.

4. Corey

Pembelajaran diartikan sebagai proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola untuk mengubah tingkah laku serta menghasilkan respon yang lebih baik pada proses belajar.

5. G.A Kimbleg

Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah yang dilakukan oleh guru dan murid. Perubahan pemahaman yang terjadi pada siswa akan bersifat kekal dan relatif bisa dipertahankan jika diimbangi dengan latihan.

Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses pemberian ilmu kepada seseorang yang dilakukan secara terstruktur dan dikelola secara sengaja dengan memperhatikan asas pendidikan.

Pembelajaran memiliki ciri-ciri serta karakteristik tersendiri yang membuatnya berbeda dengan sistem lainnya. Berikut merupakan ciri-ciri pembelajaran:

  • Mampu menumbuhkan motivasi dan perhatian siswa dalam belajar.
  • Dilakukan dengan sadar dan sudah direncanakan secara sistematis dan teratur.
  • Dapat menggunakan alat bantu belajar guna menarik perhatian dan meningkatkan suasana belajar yang lebih menyenangkan.
  • Menyediakan bahan belajar yang lebih menarik dan menantang bagi para siswa.
  • Mampu membuat siswa menerima materi secara maksimal, baik fisik maupun psikologis.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.